AMC Kerakyatan Bekasi Raya Hadir di Depok, Gairahkan Pelestarian Budaya dan Ekonomi Lokal
4 min read
BANYUWULU.COM- DEPOK — Kehadiran AMC Kerakyatan Bekasi Raya dalam kegiatan lomba tari tradisional di Ciplaz Depok menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap upaya menghidupkan kembali seni dan budaya tradisional di tengah generasi muda.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Sabtu–Minggu, 26–27 September 2026, tersebut diikuti sebanyak 288 peserta dari jenjang taman kanak-kanak (TK) hingga SMA.
Kehadiran Sekda AMC Kerakyatan Bekasi Raya, Mansur, secara langsung turut memberikan warna tersendiri dalam kegiatan yang tidak hanya menjadi ruang kompetisi seni, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan pelestarian budaya dan penguatan aktivitas ekonomi masyarakat.
Para peserta terbagi dalam sejumlah kategori, yakni TK, SD kelas 1–3, SD kelas 4–6, SMP, dan SMA. Mereka hadir bersama orang tua, pendamping, serta masyarakat yang menyaksikan jalannya perlombaan.
Ramainya peserta dan pengunjung membuat kawasan Ciplaz Depok semakin hidup. Aktivitas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan seni dan budaya dapat berjalan beriringan dengan geliat ekonomi di pusat perbelanjaan.
AMC Dorong Budaya Tradisional Tetap Hidup
Kehadiran AMC Kerakyatan Bekasi Raya menjadi bagian dari dukungan terhadap kegiatan positif yang memberikan ruang kepada anak-anak dan remaja untuk mengenal sekaligus menampilkan kekayaan budaya tradisional.
Sekda AMC Kerakyatan Bekasi Raya, Mansur, menilai kegiatan seperti ini memiliki nilai penting karena budaya tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi harus diberikan ruang untuk dipraktikkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, keterlibatan anak-anak dalam seni tari tradisional dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga agar budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Semangat tersebut juga sejalan dengan upaya menjadikan kegiatan budaya sebagai ruang pertemuan antara komunitas, pelaku usaha, pengelola pusat perbelanjaan, masyarakat, dan pemerintah.
288 Peserta, Kompetisi Dinilai Profesional
Pemilik sekaligus pengelola Q’Rey Enterprise, Nuraini, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap pelestarian budaya di Kota Depok, khususnya dengan melibatkan anak-anak usia dini hingga remaja.
“Saya sangat bangga bisa membantu melestarikan budaya di Kota Depok, khususnya bagi anak-anak usia dini hingga remaja. Alhamdulillah, acara yang berlangsung selama dua hari ini berjalan lancar,” ujarnya.
Untuk menjaga objektivitas penilaian, panitia menghadirkan empat juri dari berbagai latar belakang, yakni perwakilan Disporyata yang diwakili KA Alit, Bunda Dewi dari DKD, Bunda Neng dari Cikarang, serta Pap Asmir dari Bandung.
Pap Asmir mengatakan dirinya senang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, keberadaan juri dari berbagai daerah dapat membantu menjaga profesionalitas dan netralitas proses penilaian.
“Saya sangat senang dapat terlibat dalam acara ini. Sebagai juri dari luar daerah, saya berupaya menjaga netralitas dalam penilaian. Di sini ada empat juri dan kami bersikap profesional dalam menjalankan tugas,” katanya.
Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain teknik tari, ekspresi, kekompakan, kemampuan peserta, serta kesesuaian penampilan dengan tema budaya yang dibawakan.
Ketua DKD Beri Masukan untuk Pengembangan Kegiatan
Ketua DKD, Kang Wawan, yang turut hadir memberikan sejumlah masukan kepada pihak pengelola Ciplaz Depok dan Q’Rey Enterprise agar kegiatan seni dan budaya dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Ia berharap lomba tari tradisional maupun kegiatan seni lainnya dapat lebih sering digelar di Kota Depok.
Kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi sarana memperkenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus membuka ruang bagi berkembangnya potensi seni dan budaya lokal.
Masukan tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi penyelenggara untuk menghadirkan kegiatan berikutnya dengan konsep yang semakin baik dan mampu menjangkau lebih banyak peserta.
Budaya Hidup, Ekonomi Bergerak
Dampak kegiatan terlihat bukan hanya dari tingginya jumlah peserta, tetapi juga dari meningkatnya aktivitas masyarakat di kawasan Ciplaz Depok.
Sebanyak 288 peserta yang hadir bersama orang tua dan pendamping menciptakan pergerakan pengunjung selama kegiatan berlangsung.
Kondisi tersebut turut memberikan aktivitas bagi berbagai sektor pendukung di kawasan pusat perbelanjaan, mulai dari tenant, area kuliner, parkir, wahana bermain, hingga usaha lainnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan dapat memiliki dampak sosial sekaligus ekonomi.
Ketika budaya dikemas dalam kegiatan yang menarik dan melibatkan masyarakat secara luas, pusat perbelanjaan tidak hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga dapat menjadi ruang publik untuk kegiatan seni, kreativitas, dan interaksi masyarakat.
Diharapkan Menjadi Agenda Berkelanjutan
Tingginya antusiasme peserta menjadi salah satu modal untuk mengembangkan kegiatan serupa secara berkelanjutan di Kota Depok.
Nuraini berharap lomba tari tradisional dapat kembali digelar dan menjadi salah satu agenda yang ikut mengangkat budaya Depok hingga dikenal lebih luas.
“Semoga acara seperti ini sering diadakan di Depok agar budaya di Kota Depok dapat terangkat, baik di Depok maupun di luar Depok, bahkan sampai ke luar negeri,” ujarnya.
Kehadiran AMC Kerakyatan Bekasi Raya dalam kegiatan tersebut juga memperlihatkan bahwa pelestarian budaya dapat menjadi ruang kolaborasi lintas wilayah.
Dari Depok, semangat menjaga budaya tradisional diharapkan terus berkembang. Sebab, ketika anak-anak dan generasi muda diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, dan menampilkan budaya, maka budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan tetap hidup dan bergerak bersama masyarakat.
Budaya hidup, ekonomi bergerak. Dari panggung tari, lahir ruang kreativitas, silaturahmi, sekaligus pergerakan ekonomi masyarakat.
(Red)
